Sesarengan Solo - Malam di Sambirejo pada Sabtu (2/5) terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Alih-alih menjadi sekadar pelatihan teknis yang kaku, agenda praktik pengolahan limbah yang diinisiasi oleh Teman Aksi Solo Raya justru berubah menjadi momen kebersamaan yang penuh tawa dan kebahagiaan bagi seluruh lapisan warga, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak-anak.
Usai shalat Isya, balai pertemuan dipenuhi hiruk-pukuk keseruan. Di satu sudut, kelompok bapak-bapak tampak antusias berjibaku dengan pengolahan pupuk kandang. Keseriusan mereka sesekali pecah oleh candaan khas warga saat mencoba mencampur bahan fermentasi. Sementara itu, kelompok ibu-ibu tampak sangat menikmati proses pembuatan Eco Enzyme di bawah bimbingan telaten Kak Mei. Suasana semakin hidup karena anak-anak kecil ikut "terjun" langsung, memasukkan potongan kulit buah ke dalam wadah dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
Momen paling berkesan adalah ketika jarak antara pemateri dan warga seolah hilang. Kehadiran tren viral "kicau mania" yang dipraktikkan di sela-sela praktik membuat suasana meledak dalam tepuk tangan dan tawa bersama. Teman Aksi Solo Raya tampak sigap berbagi tugas, membantu memastikan takaran pupuk dan cairan organik benar, sembari terus berinteraksi akrab dengan warga.
"Kegiatan ini sangat berkesan buat kami. Biasanya limbah hanya dibuang begitu saja, sekarang kami tahu cara mengolahnya sambil seru-seruan bareng tetangga. Terima kasih banyak untuk Teman Aksi Solo Raya yang sudah jauh-jauh datang membawa ilmu yang sangat bermanfaat," ujar salah satu warga di sela-sela kesibukannya.
Ucapan terima kasih dan dukungan terus mengalir dari para orang tua yang merasa senang melihat anak-anak mereka belajar hal positif sejak dini. "Semangat terus buat teman-teman Aksi Solo Raya, jangan lelah berbagi di desa-desa seperti kami," tambah seorang bapak yang sedang menyelesaikan campuran pupuk kandangnya.
Kegiatan malam itu ditutup dengan wajah-wajah ceria dan kebanggaan karena berhasil menyelesaikan sampel produk perdana. Bagi warga Sambirejo, ini bukan sekadar pelatihan, melainkan memori indah tentang bagaimana kepedulian terhadap lingkungan bisa dibangun di atas fondasi kebahagiaan dan persaudaraan.
