Kill the Messenger: Ketika Kritik Dibalas Tuduhan Anti-NKRI dan Anteknya Asing

Dalam politik, ada satu pola klasik yang terus berulang dari zaman ke zaman: Ketika sebuah pesan terlalu sulit dibantah, maka pembawanya yang diserang. Istilahnya dikenal sebagai “Kill the messenger” , membunuh sang pembawa pesan. Bukan selalu secara fisik, tetapi melalui delegitimasi, stigmatisasi, intimidasi, hingga pembunuhan karakter.

Di Indonesia hari ini, pola itu terlihat semakin jelas. Alih-alih membahas substansi kritik soal ekonomi, utang negara, atau proyek pemerintah, ruang diskusi justru dialihkan menjadi pertanyaan tentang motif si pengkritik. “Siapa yang membiayai mereka?”, “Ada agenda asing?”, hingga “Mereka tidak mendukung NKRI”, menjadi respons yang semakin lazim muncul. Padahal dalam negara demokrasi, kritik terhadap pemerintah bukan tindakan anti-negara. Pemerintah dan negara adalah dua hal berbeda. Mengkritik kebijakan bukan berarti membenci NKRI. Namun dalam praktik politik modern, batas itu sengaja dikaburkan. Kritik sering diposisikan sebagai ancaman terhadap stabilitas, kedamaian, bahkan persatuan nasional.

Narasi seperti ini terlihat dalam berbagai kasus beberapa tahun terakhir. Ketika ekonom atau pengamat mengkritik proyek strategis nasional, mereka dituduh tidak mendukung pembangunan, “Anak Abah”, atau Antek asing. Ketika aktivis lingkungan menolak proyek tertentu, mereka disebut menghambat investasi dan merusak kemajuan bangsa. Ketika akademisi mempertanyakan kualitas demokrasi atau netralitas aparat, muncul tuduhan bahwa mereka sedang menciptakan keresahan dan memecah belah masyarakat. Lembaga seperti CELIOS, misalnya, beberapa kali menjadi sasaran tuduhan sebagai alat kepentingan asing atau terkait jaringan George Soros. Fokus pembicaraan kemudian bergeser dari kualitas data dan metodologi penelitian menjadi spekulasi tentang siapa yang berada di belakang mereka. Akibatnya, substansi kritik ekonomi yang seharusnya diperdebatkan secara terbuka justru tenggelam dalam perang stigma.

Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang unik di Indonesia. Hampir semua rezim dalam sejarah memiliki kecenderungan serupa: ketika kritik sulit dijawab secara substansial, maka kredibilitas pengkritiknya yang dihancurkan. Teknik ini efektif karena masyarakat lebih mudah dipengaruhi oleh sentimen identitas dibanding membaca data atau analisis panjang.

Karena itu muncul pola retorika yang sangat khas, ketika media investigasi mengungkap dugaan penyimpangan, medianya dituduh memiliki agenda tertentu. Ketika mahasiswa turun ke jalan, mereka disebut ditunggangi kepentingan politik. Ketika organisasi masyarakat sipil berbicara soal hak asasi manusia, mereka dicap membawa nilai asing yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Bahkan tidak jarang kritik terhadap pemerintah dipersepsikan sebagai ancaman terhadap “kedamaian” dan “persatuan nasional”, seolah-olah ketenangan sosial hanya bisa dijaga jika masyarakat berhenti mengkritik penguasa.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa stabilitas tanpa kritik sering kali hanya menghasilkan ilusi ketenangan. Negara tampak damai di permukaan, tetapi masalah menumpuk di bawahnya tanpa mekanisme koreksi. Demokrasi sehat justru membutuhkan oposisi intelektual dan kebebasan berbicara agar kesalahan kebijakan dapat diperbaiki sebelum menjadi krisis besar. Pembungkaman modern juga tidak lagi selalu dilakukan secara kasar seperti di masa lalu. Jika pada era Orde Baru tekanan dilakukan melalui pencabutan izin media atau penangkapan terbuka, hari ini caranya (jauh lebih halus dan terdesentralisasi. Serangan digital, framing media sosial, buzzer politik, doxxing, kriminalisasi menggunakan pasal karet, hingga penggiringan opini bahwa kritik sama dengan tindakan anti-NKRI menjadi instrumen yang lebih efektif) dengan teror kepada keluarga, pembubaran paksa nonton bareng, hingga penyiraman air keras. Tujuannya bukan hanya membuat satu orang diam, tetapi menciptakan efek takut bagi publik secara luas.

Fenomena kill the messenger sebenarnya sudah terjadi sejak masa Nabi Muhammad ï·º. Ketika Rasulullah membawa pesan tauhid yang mengguncang struktur kekuasaan dan ekonomi Quraisy, para elite Makkah tidak langsung fokus membantah isi ajaran tersebut. Mereka justru menyerang pribadi Nabi. Rasulullah dituduh sebagai penyair, orang gila, pemecah belah masyarakat, bahkan dituduh diajari oleh orang asing. Al-Qur’an merekam tuduhan itu dalam QS An-Nahl ayat 103: “Dan sungguh Kami mengetahui bahwa mereka berkata: ‘Sesungguhnya Al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya.’” Menariknya, pola yang digunakan sangat mirip dengan politik modern. Yang diserang bukan substansi pesan, melainkan kredibilitas pembawa pesan. Karena ketika sebuah argumen terlalu kuat untuk dipatahkan secara langsung, cara paling efektif adalah membuat publik meragukan orang yang menyampaikannya.

Di titik inilah masyarakat perlu berhati-hati. Nasionalisme yang sehat seharusnya membuat negara semakin terbuka terhadap evaluasi, bukan kebal kritik. Sebab negara yang kuat bukan negara yang berhasil membungkam suara berbeda, melainkan negara yang mampu bertahan diuji oleh kritik dan transparansi. Sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa ketika penguasa mulai sibuk mencari “siapa di balik kritik” dibanding menjawab isi kritik itu sendiri, biasanya ada masalah besar yang memang tidak ingin diketahui publik.

Ads
Lebih baru Lebih lama